“Kenapa kau tidak
melawan?”
Tanyaku pada Mardi yang
sudah babak belur dihajar para berandal.
“Kenapa? Bukankah itu
sudah jelas? Itu karena walaupun aku melawan, hasilnya akan tetap sama: aku
kalah. Jadi, dari pada mengulur waktu dan melakukan hal konyol, aku lebih
memilih untuk sesegera mungkin mengakhirinya; yaitu dengan membiarkan mereka
menghajarku sampai puas.”
“……”
Aku terdiam. Aku tidak
menyangka jawaban itu akan keluar dari mulut Mardi yang biasanya pendiam.
Selama ini aku mememandang sosok Mardi sebagai cowok pendiam namun memiliki
sisi kalem yang sopan. Tetapi setelah kejadian tadi, pandanganku pada Mardi
telah berubah total. Sekarang aku melihat sosoknya seperti—
“—seorang pecundang.
Sekarang kau mulai melihatku sebagai seorang pecundang, kan?”
“………Pecundang saja
tidaklah cukup untuk mendeskripsikanmu. Biasanya seseorang akan melindungi diri
jika diserang orang lain, entah itu layaknya ksatria yang mati di medan perang,
atau pengecut yang mati karena kabur dari tugas militernya. Tetapi belum pernah
mendengar—tidak, belum pernah aku mengira ada seseorang yang akan benar-benar
menyerahkan raganya begitu saja kepada lawan agar bisa segera dibantai dan
mengakhiri semuanya.”
Aku menghela nafas.
“Bagiku kau itu bukan
pecundang. Kau adalah sampah—Tidak! Bahkan sampah masih bernilai dibandingkan
denganmu. Kau lebih rendah dari itu. Kau adalah sampahnya sampah!”
Aku mengatakannya tanpa
ragu. Aku mungkin terdengar keterlaluan, tetapi itulah pandangan jujurku akan
siapa Mardi sebenarnya.
Setelah mengatakannya, aku
bertanya-tanya kira-kira apa reaksi Mardi terhadapku. Apakah dia akan marah,
sedih, atau tertawa?
“Yah, aku sering
mendapatkan ucapan itu dari orang-orang. Tapi aku sudah cukup senang hanya
dibilang pecundang kok!”
Itulah balasan seorang
Mardi Karno. Dia menjawabnya layaknya orang yang dihinggapi lalat: merasa bahwa
itu hanyalah gangguan kecil yang tidak perlu dia hiraukan.
Mendengar itu aku sudah
sedikit menduga bahwa itulah reaksi Mardi. Dia lalu menggaruk kepalanya dan
mulai berjalan meninggalkan Mardi.
“…Yah, Selama kau
baik-baik saja dengan jalan pikiranmu itu, aku tidak akan pernah menggangumu
lagi.”
“Oke, terima kasih
Kamirul atas pengertiannya~!”
Mardi menepuk tangannya
sambil tersenyum kepadaku layaknya orang yang menerima permintaan maaf karena
sudah diganggu.
(Jadi selama
kemunculanku tadi dia merasa aku seperti sedang mengganggunya ya?)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar