Rabu, 18 Mei 2016

Loser Story

“Kenapa kau tidak melawan?”
Tanyaku pada Mardi yang sudah babak belur dihajar para berandal.
“Kenapa? Bukankah itu sudah jelas? Itu karena walaupun aku melawan, hasilnya akan tetap sama: aku kalah. Jadi, dari pada mengulur waktu dan melakukan hal konyol, aku lebih memilih untuk sesegera mungkin mengakhirinya; yaitu dengan membiarkan mereka menghajarku sampai puas.”
“……”
Aku terdiam. Aku tidak menyangka jawaban itu akan keluar dari mulut Mardi yang biasanya pendiam. Selama ini aku mememandang sosok Mardi sebagai cowok pendiam namun memiliki sisi kalem yang sopan. Tetapi setelah kejadian tadi, pandanganku pada Mardi telah berubah total. Sekarang aku melihat sosoknya seperti—
“—seorang pecundang. Sekarang kau mulai melihatku sebagai seorang pecundang, kan?”
“………Pecundang saja tidaklah cukup untuk mendeskripsikanmu. Biasanya seseorang akan melindungi diri jika diserang orang lain, entah itu layaknya ksatria yang mati di medan perang, atau pengecut yang mati karena kabur dari tugas militernya. Tetapi belum pernah mendengar—tidak, belum pernah aku mengira ada seseorang yang akan benar-benar menyerahkan raganya begitu saja kepada lawan agar bisa segera dibantai dan mengakhiri semuanya.”
Aku menghela nafas.
“Bagiku kau itu bukan pecundang. Kau adalah sampah—Tidak! Bahkan sampah masih bernilai dibandingkan denganmu. Kau lebih rendah dari itu. Kau adalah sampahnya sampah!”
Aku mengatakannya tanpa ragu. Aku mungkin terdengar keterlaluan, tetapi itulah pandangan jujurku akan siapa Mardi sebenarnya.
Setelah mengatakannya, aku bertanya-tanya kira-kira apa reaksi Mardi terhadapku. Apakah dia akan marah, sedih, atau tertawa?

“Yah, aku sering mendapatkan ucapan itu dari orang-orang. Tapi aku sudah cukup senang hanya dibilang pecundang kok!”

Itulah balasan seorang Mardi Karno. Dia menjawabnya layaknya orang yang dihinggapi lalat: merasa bahwa itu hanyalah gangguan kecil yang tidak perlu dia hiraukan.
Mendengar itu aku sudah sedikit menduga bahwa itulah reaksi Mardi. Dia lalu menggaruk kepalanya dan mulai berjalan meninggalkan Mardi.
“…Yah, Selama kau baik-baik saja dengan jalan pikiranmu itu, aku tidak akan pernah menggangumu lagi.”
“Oke, terima kasih Kamirul atas pengertiannya~!”
Mardi menepuk tangannya sambil tersenyum kepadaku layaknya orang yang menerima permintaan maaf karena sudah diganggu.

(Jadi selama kemunculanku tadi dia merasa aku seperti sedang mengganggunya ya?)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar